Aku sering merasa bahwa hidupku sangat tidak menarik, aku merasa aku hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia. tidak produktif, tidak punya makna hidup dan terlalu tidak menarik untuk ku ingat.
Hal ini aku sadari ketika aku tumbuh semakin tua dan aku sadar bahwa aku tidak jadi apa-apa dan tidak punya siapa-siapa dalam hidup kecuali keluargaku. aku punya orang tua utuh, adik dan kakak yang selalu support meski sekarang semuanya berjalan masing-masing. aku merasa sepi dan sendirian. karirpun stuck, relationship selalu gagal, tidak punya banyak teman. dan aku hanya menghabiskan waktu untuk scroll social media bahkan pernah kecanduan game mobile legend dan anime.
Tapi apakah aku benar-benar semenyedihkan itu? apakah aku benar-benar merasa se loser itu. aku akan breakdown apa saja yang ku lalui dalam hidup.
coba kita lihat lagi ke belakang apa yang penting di dalam hidup. aku akan melewatkan SD-SMP bukan tidak penting tapi aku masih kecil. namun aku juga menjadi anak yang pintar, selalu juara 1 di kelas. meski aku tidak sepandai kakak-kakaku dan adik-adiku tapi aku adalah anak kecil yang tekun.
a. Fase SMA
aku ikut banyak ektrakurikuler
- osis
-paskibra
-pramuka
-irema
- voly
-basket
b. Fase Kuliah
- ketika kuliah aku mengambil banyak organisasi, UKM Karate, Hima walau sebentar
- aku berolahraga karate setiap minggu
- aku bekerja paruh waku di cafe internet kampus
C. Fase bekerja
- Ikut Organisasi membaca (KCM)
- menjadi volunteer anak yatim
- belajar bahasa jepang walau sebentar dan tidak sampai ahli
- sering pergi ke alam bebas (air terjun/curug)
- banyak mebaca buku
- Menulis banyak cerpen
- Suka Lari maraton (ikut banyak even)
- trading ipo saham (banyak untung dari sini)
- ngegym
Meski banyak hal yang ku lakukan tapi aku masih banyak waktu dalam hidup, aku masih merasa hidupku tidak kemana-mana. aku masih tetap orang yang sama, seperti loser. apalagi kini aku hanya sendirian tanpa teman, kekasih dan keluargaku juga jauh. aku hanya menghabiskan waktu dengan bengong dan meratapi nasib, bertanya-tanya setiap hari kenapa hidupku begini? apakah hanya karena satu hal yang belum ku capai dalam hidup, bertemu seseorang yang ku cintai dan mencintaiku. atau apakah pekerjaan tidak membuatku meaningfull atau apakah aku butuh teman untuk berbagi?
solusi :
1. Bagaimana untuk tetap menikmati waktu meski sepi dan tidak punya seseorang di dalam hidup?
Kesepian itu manusiawi, apalagi ketika kita melihat orang lain seolah lebih "penuh" hidupnya. Tapi keheningan dan kesendirian juga bisa menjadi ruang tumbuh yang luar biasa jika kamu merangkulnya, bukan melawannya. Coba mulai dari hal kecil:
Nikmati rutinitas dengan penuh perhatian: Misalnya saat minum teh, mendengarkan musik favorit, jalan kaki sore, atau menulis jurnal seperti ini. Rasakan setiap detik tanpa menghakimi apakah itu “berarti” atau tidak.
Jadikan waktu sendiri sebagai waktu mengenal diri: Misalnya dengan membuat “self-date” setiap minggu—ke tempat baru, nonton film sendiri, atau mencoba resep masakan baru.
Bangun koneksi ringan tapi rutin: Bergabunglah dalam komunitas online/offline, tidak harus intens, tapi cukup untuk merasa "terhubung". Bahkan satu panggilan video dengan orang yang kamu percayai tiap minggu bisa jadi penyegar hati.
2. Bagaimana menerima bahwa setelah hidup 30 tahun aku belum pernah benar-benar merasa hidup?
Pertanyaan ini sangat dalam, dan penting. Rasanya seperti kamu sedang memandang hidupmu dari luar, seolah ada standar yang harus dicapai dulu baru boleh merasa "berarti".
Tapi coba lihat ulang daftar yang kamu tulis: kamu sudah hidup—dengan banyak warna. OSIS, paskibra, menulis cerpen, lari maraton, belajar bahasa, bahkan curhat seperti ini adalah bentuk hidup yang penuh rasa. Mungkin yang kamu cari bukan "kisah indah", tapi momen yang terasa cukup untuk hati. Dan itu bisa kamu ciptakan sendiri.
Untuk menerima masa lalu yang terasa "kurang hidup":
Akui rasa kehilangan atau kekosongan itu, tanpa menghakimi diri.
Lalu tanyakan: "Apa satu hal kecil hari ini yang bisa membuatku merasa hadir sepenuhnya?" Tidak harus besar—cukup duduk di taman, menulis satu paragraf cerita, atau menyapa orang di warung.
3. Bagaimana agar dekat dengan Tuhan, meminta dan berserah atas kehidupanku?
Hubungan dengan Tuhan sangat personal. Tapi kedekatan bisa dibangun dari hal sederhana:
Mulai dengan kejujuran penuh, seperti tulisanmu ini. Doa tidak harus indah. Kadang cukup berkata, “Tuhan, aku bingung. Aku lelah. Tapi aku mau belajar percaya.”
Luangkan waktu khusus setiap hari meski hanya 5-10 menit, bukan untuk meminta, tapi untuk hadir bersama-Nya. Diam, mendengarkan, menulis surat untuk Tuhan, membaca kitab suci, atau zikir dengan tenang.
Praktikkan berserah lewat tindakan: Misalnya dengan melakukan kebaikan kecil, menolong orang lain, atau tetap melangkah meski kamu belum tahu akan ke mana.
Njar, kamu tidak sendiri. Dan kamu bukan “loser”. Kamu adalah seseorang yang sedang mencari makna, yang sudah banyak berbuat dan sedang berani menghadapi sunyi. Itu butuh keberanian besar. Dan kamu punya itu.


Komentar
Posting Komentar