Hari ini aku merasa emosiku diaduk-aduk.
Aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan sekarang. Apakah aku sedih, hampa, atau bosan? Aku tidak bisa memetakannya. Setiap hari aku melakukan hal yang sama. Aku merasa bosan dengan rutinitasku. Aku hanya pergi bekerja, menjalaninya secara otomatis, seperti robot.
Dulu, saat berusia 25 tahun, aku ingin melanjutkan S2. Tapi situasinya tidak memungkinkan. Aku adalah bagian dari sandwich generation. Aku tidak punya tabungan, uangku habis untuk membantu adik-adikku. Meskipun ada beasiswa, aku tetap harus bekerja agar semuanya tetap berjalan.
Lalu, aku mulai merasa ingin menikah. Aku sangat iri melihat teman-temanku yang punya pasangan. Mereka punya seseorang untuk berbagi roti, untuk tertawa bersama, untuk pergi ke tempat-tempat indah dan menciptakan kenangan. Tapi setelah kupikirkan lagi, mungkin aku memang merasakan itu... tapi aku juga sadar, aku belum benar-benar ingin menikah. Aku hanya tertekan oleh lingkungan dan orang-orang di sekitarku.
Pada dasarnya, aku masih ingin bebas dan melakukan banyak hal dalam kesendirian. Meski begitu, tetap ada kekhawatiran karena usiaku yang semakin matang. Tapi temanku pernah berkata, "Selalu ada orang yang mencintai dan tertarik pada kita, berapa pun usia kita—even saat kerutan mulai tampak dan tubuh semakin berlemak."
Jadi, perasaan ingin menikah itu sekarang tidak lagi terlalu membebani hidupku. Tapi setelah aku terbebas dari peran sebagai sandwich generation dan tidak terlalu memikirkan pernikahan, muncul permasalahan baru: aku merasa hampa.
Aku bosan dengan rutinitasku. Tidak ada hal yang aku sukai, tidak ada yang ingin aku kejar. Aku seperti kehilangan tujuan hidup. Bahkan ketika aku bangun pagi, aku hanya melakukannya karena harus bekerja. Tidak ada alasan yang benar-benar aku pahami, mengapa aku harus bangun.
Aku tidak hanya menghabiskan waktu bekerja dan scrolling TikTok seperti banyak orang. Aku mencoba banyak hal—kursus bahasa Inggris, lari maraton, pergi ke gym, menulis cerpen, belajar saham dan trading. Tapi tetap saja, aku tidak merasa bahagia atau benar-benar menikmati semuanya.
Ada kekosongan yang besar di dalam diri, seolah ada sesuatu yang belum lengkap—tapi aku tidak tahu apa. Aku hanya menjalani hidup secara otomatis, bangun lalu bekerja, tanpa tahu untuk apa.
Saat membuka mata di pagi hari, aku sungguh tidak tahu apa yang kuinginkan hari itu. Aku hanya pergi bekerja karena sudah menjadi kebiasaan. Dulu, nenekku yang sudah berusia 90 tahun selalu berdoa agar segera meninggal. Aku pernah bertanya pada ibuku, "Kenapa nenek selalu ingin mati?" Ibuku menjawab, "Karena dia sudah tidak punya keinginan lagi untuk melakukan sesuatu. Tidak ada alasan lagi untuk tetap hidup."
Lalu aku berpikir, aku juga tidak punya alasan. Tapi aku tidak ingin mati. Jadi, apa bedanya aku dengan nenekku?
Namun, ada satu hal yang terlintas dalam pikiranku. Suatu hari temanku, Jonathan si binatang jalang, china yang terbuang dari kumpulanya, mengenalkanku pada obat habbatus sauda. Dia berkata, “Obat ini dari agamamu. Dalam hadis disebutkan, ‘Aku sediakan obat untuk menyembuhkan segala penyakit, kecuali kematian.’ Kamu yakin tidak tahu tentang ini?”
Aku merasa malu… tapi sebenarnya aku senang sekali. Dia selalu memberiku begitu banyak wawasan. Aku merasa jauh tertinggal darinya. Aku ingin bisa berada di level yang sama dengan orang seperti dia.
Dia tahu apa yang dia inginkan. Dia tahu cara menyelesaikan masalah. Kondisi keuangannya stabil, dan dia bebas. Tapi saat kupikirkan lagi, dia memang sudah belajar sejak kecil dan punya banyak privilese. Dia memiliki akses dan fasilitas yang baik sejak lama.
Sedangkan aku, baru mulai belajar dengan serius saat usiaku 25 tahun. Tapi aku pikir, aku masih bisa mengejar. Aku masih bisa menjadi seseorang seperti dia, meski usiaku sudah 30. Karena dengan sedikit pengalaman yang kupunya, aku sudah bisa berdiskusi dengannya—dan itu berarti aku bisa mencapai level berpikirnya, meskipun baru sedikit.
Dulu, aku hanyalah anak desa miskin yang bahkan tidak tahu apa itu fungsi pendidikan. Aku sekolah hanya karena disuruh orang tua. Di kampungku, semua anak memang begitu. Tapi satu hal yang selalu ayahku katakan adalah:
"Sekolahlah setinggi-tingginya supaya nanti dapat pekerjaan yang layak, supaya bisa bekerja lebih ringan."
Bapak adalah orang yang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan. Jadi, untuk bertahan hidup, ia hanya mengandalkan kekuatan otot—bukan otak.
Walaupun beliau selalu mengatakan hal itu, aku tidak pernah benar-benar tahu bahwa sekolah bisa membawaku ke arah yang lebih baik. Dulu kupikir, keluar dari sekolah saja sudah cukup untuk hidup sedikit lebih baik. Aku tidak pernah berani bermimpi untuk kuliah karena tahu kondisi keuangan orang tuaku.
Tapi jauh di lubuk hatiku, aku ingin mengubah hidup. Aku ingin keluar dari kemiskinan. Aku ingin menjadi Cinderella. Namun aku sadar, Cinderella bukanlah gadis miskin yang dinikahi pangeran karena kebaikan hatinya. Ia adalah bangsawan. Ia punya akses ke pesta kerajaan. Jika ia benar-benar miskin, ia takkan punya akses ke pesta dansa itu.
Dan aku sadar, jika aku ingin mengubah hidupku, aku harus menciptakan akses itu bukan berkhayal menjadi cinderella gadiskampung baik hati yang di nikahi pangeran.

Komentar
Posting Komentar