Hei kau…
Aku ingin bercerita tentang kisah yang paling menyedihkan dalam hidupku, tidak ada happy ending seperti drama korea. Ketika aku menulisnya aku bergidik ngeri mengingat semuanya. Sampai aku ragu apakah harus kulanjutkan atau aku simpan saja sendiri didalam hatiku, dan kubiarkan rahasia tetaplah rahasia kukubur semua Bersama luka hati yang mendalam. Tapi aku hanya ingin bercerita..aku hanya ingin…ah sudahlah kau dengar saja.
Kisah pilu ini bermula ketika umur 17 tahun. Aku terlahir dikeluarga yang serba kekurangan. Meski begitu keluarga kami sangat sederhana dan hangat. Rumah kami kecil berdinding bamboo dan beratap kayu. Kami hanya tinggal berempat dirumah. Keluarga kami sangat kesulitan ekonominya, jadi saat aku lulus SMA aku memutuskan pergi ke negeri orang yang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Berangkat sebagai TKW, aku anak yang baru mengenal sejengkal dunia harus melalui berbagai kesulitan dinegeri orang. kau tidak tahu betapa sulitnya beradaptasi dengan budaya orang lain, kau tidak tahu bagaimana rasanya saat rasa rindu pada negeri sendiri serasa membuatku hampir gila dan kau tidak tahu betapa kesepian membuatmu seperti mencekiku.
Waktu mengalir sangat lambat, meski begitu semua berjalan lancer. Semua pekerjaan dapat kuselesaikan dengan baik. Majikanku tidak terlalu rewel jadi aku merasa lebih dipermudah dalam pekerjaanku. Masalah komunikasi tidak terlalu sulit, karena sebelum berangkat ke negara ini aku mendapatkan pelatihan untuk beberapa bulan.
Sampai malam itu datang, malam yang menyesakan, malam yang merenggut semua harapan, Masa depan, kebahagiaan dan semangat dalam hidupku. Malam itu semua direnggut, yang tersisa hanya luka yang paling mendalam didalam hatiku.
Malam itu majikan perempuanku pergi ke nnnnnn untuk menjenguk orang tuanya yang sakit. Aku ditinggal selama seminggu dengan suaminya yang sering kusebut baba untuk menjaga rumah. Dia pergi hanya dengan dua orang anaknya, karena suaminya masih harus bekerja.
Aku tidak terlalu ingat bagaimana semua berawal, tapi aku masih ingat saat dia merobek bajuku, saat dia membanting badanku dan saat dia mendorong dirinya kedalamku. Dan masih sangat jelas rasa asin dilidahku dari deraian air mataku. Semua tidak bisa kulupakan, semua tidak bisa ku hilangkan semua membekas dalam ingatanku. Jika saja ada pil yang akan membuatku amnesia, tolong berikan, berikan padaku. Aku akan menelannya.
Aku yang terluka tidak bisa hanya diam, malam itu aku kabur dari rumah jahanam itu. Aku tidak tahu harus kemana dan pada siapa aku meminta pertolongan. Yang hanya bisa kulakukan hanya berlari dan terus berlari menjauh dari dari binatang itu. Binatang yang sudah menerkam dan mencakar tubuhku sampai terluka parah.
Saat itu aku hanya berdoa dalam hati, meskipun aku tidak tahu Tuhan itu ada atau hanya mitos. Tentu saja aku benar-benar tidak percaya Tuhan yang adil. Jika memang ada, bagaimana bisa dia tega melakukannya pada hambanya yang sangat religius ini. Sedetikpun aku tak pernah meninggalkan Tuhan, selalu mengingat dan berdikir padan-Nya. Tapi disela-sela kebencian dan terus meniadakan Tuhan. Aku tetap meminta tolong padanya, aku tetap menyebut nama-Nya. Meskipun aku tidak tahu dia akan menolongku atau tidak.
aku tersedu-sedu dibawah pohon kurma, aku menatap langit dengan mata nanar dan kebencianku kepada Tuhan, ingin sekali aku mengutuk. Ingin sekali aku memaki dan ingin sekali aku menjerit “Tuhan Kau kejam sekali”. tapi aku hanya terbata, tak sanggup kuungkapkan apa yang sedang kurasakaan saat ini, meski hanya didalam hati. Hanya air mata yang mampu bicaramersakan perihnya luka ini, menyadari kejamnya kehidupan ini. Diatas sana banyak kerlap-kerlip pesawat yang dulu sempat membawaku pada kesialan ini. Tuhan tidak menampakan diri hanya bintang-bintang yang seakan bersimpati.
Selam tiga hari aku hanya duduk ditempat itu, disebua lahan kosong yang banyak phon kurmanya. Selama itu pula tubuhku mulai lemas dan sakit. Kini bukan hanya hatiku yang merintih. Tapi fisiku juga. Dimalam-malam terkhir itu 2 orang menghampiriku, sepertinya mereka sepasang suami istri. Samar terdengar mereka akhirnya memutuskan membawaku kekantor polisi.
Selam perjalanan pulang aku terus berpikir bagaimana cara mencari alasan kepulanganku sebelum kontrak kerjaku habis. Tidak mungkin aku mengatakan hal buruk yang menimpaku pada mereka. Tentu saja hanya akan melukainya. Jadi aku berusaha tegar dan tetap tersenyum meski hatiku hancur berkeping-keping.
Saat tiba di Indonesia ibu tiba-tiba tidak mengajukan sepatah katapun udengan keganjilan kepulanganku dia hanya memeluku dan menangis. Aku sangat takut, menerka-nerka dalam hati apakah dia tahu apa yang terjadi padaku. Tapi kemudian dugaanku meleset. Tapi kabar ini juga jauh lebih menyakitkan dari dugaan awalku.
“ ayah sakit”
Itulah kata yang membuatku mematung dan merasakan betapa nasib buruk terus menimpaku. Ayahku ternyata sudah berbulan-bulan terserang penyakit jantung. Uang yang selama ini kukirimkan untuk membangun rumah permanen nyatanya di pakai untuk berobat ayahku. Tambah lagi Lukaku. Orang tuaku tidak memberi tahuku karena mereka sangat khawatir padaku.
Penderitaan yang ku alami tidak berhenti sampai disitu karena beberapa bulan ayahku meninggal dan ibuku kecelakaan. Mereka semua meninggalkanku dalam waktu tak kurang dari setahun. Mereka meninggalkanku yang kesepian dan kesakitan. Aku sendirian merasakan rasa pilu, aku sendirian meratapi takdirku. Sempat aku berpikir untuk menyusul mereka. Tapi aku punya adik kecil yang harus kujaga, adik kecil yang harus ku rawat agar hidupnya tidak buruk speertiku.
Selama pemulihan (meski aku takt ahu bisa pulih atau tidak aku hanya orang yang puus asa) ibuku
Jika memang Tuhan ada saat itu akhirnya dia menolong
Pada akhirnya aku ingin mendapatkan segalanya, nyatanya aku hanya kehilangan semuanya. Seharusnya aku bersyukur dengan rumah kecil dari bambu, orang tua yang hangat dan adik kecil yang lucu. Seharusnya aku menikmati momen-momen indah dengan mereka. Seharusnya aku memaksimalkan semuanya. Sebelum semua Tuhan ambil karena keserakahanku yang ingin mendapat hal lebih dan lebih lagi.
aku disini hanya Bersama angin malam yang dingin dan semua rasa sakit yang kian menusuku mencoba berdamai, menerima semua takdir burukku. Aku tahu bahwa aku tidak pernah sendirian. Aku tahu bahwa Tuhan masih mengawasiku. Ditinggal oleh orang-orang yang kita cintai bukanlah akhir dari semuanya. Tuga kita yang hidup adalah tetap melanjutkan hidup dan menyelesaikan kisah kita sampai akhir. Meski tidak ada happy ending seperti di drama korea.
Aku selalu mencoba berdamai dengan kejadian dinegeri itu.
Aku meyakinkan diri agar terus hidup, bahwa semua akan terlewati, bahwa semua akan baik-baik saja. diperkosa tidak membuat derajatmu turun sebagai seorang wanita. Aku hanya anak kecil yang tersesat dan tidak tahu apa-apa. Aku tidak menganggap diriku kotor atau memalukan. Semua dosa dan musibah dating bukan atas kehendaku. Semua hanyalah nasib baik tidak berpihak padaku semua hanyalah karena aku yang malang. Dan itu tidak apa-apa, meski membuat sakit beribu bahkan berjuta kali, tapi takdir itu tidak membunuhku. Takdir itu tidak melenyapkanku. Takdir itu tetap ada padaku. Tidak ada pilihan lain selain hanya memeluknya.
Terima kasih hati sudah berdamai dengan hidupku yang malang. Terima kasih untuk diriku untuk tetap bertahan. Terima kasih dan terima kasih bahwa semua masih terlihat baik-baik saja. Dan terima kasih Tuhan masih menyisakan keluargaku. Aku menjaganya..
Komentar
Posting Komentar