Di dunia yang terlalu berisik, di kota yang selalu ramai aku terpojok dalam kesendirian. Merasakan bagaimana hatiku di patahkan untuk kesekian kalinya. Seakan seluruh dunia menolakku, seakan semua orang meninggalkanku. Sejak awal, aku tahu bahwa aku jangan berharap, hatiku terus mengatakan bahwa aku hanya harus diam, jangan pernah mencobanya, jangan pernah mengharapkanya. Tapi hatiku yang bebal, terus menerus tersipu saat melihatnya, ada hasrat selalu ingin mendekatinya.
Namun begitulah aku mulai tersesat dalam hasratku sendiri. aku menginginkanya, tapi aku tidak bisa menggapainya. hatiku terasa sakit, memikirkan tidak akan pernah memilikinya.
Kekecewaan berawal dari harapan yang tidak pernah sampai. Namun ketika tidak punya harapan bukankah hatiku terasa mati, bukankah aku hanya hidup mengikuti arus kehidupan tanpa punya sesuatu yang aku ingin lakukan. dan tidak ada kehidupan tanpa harapan.
Kata Budha, penderitaan sesungguhnya adalaha keinginan, jadi penderitaanku adalah keinginanku yang terlalu tinggi. jadi bagaimana seharunya? aku berharap tapi siap menderita, atau mati perlahan tanpa punya ekpektasi?
Komentar
Posting Komentar