Tiga hari ini aku melakukan hal yang cukup aneh, menjenguk seseorang yang bahkan belum lama kukenal, seseorang yang kutemui dari aplikasi kencan. Rasanya asing, sedikit konyol, dan jujur saja... aku tidak yakin untuk apa aku melakukannya.
Setiap kali berjalan menuju rumah sakit, aku selalu bertanya-tanya: apakah ini buang-buang waktu? Dari segi materi, aku cukup banyak mengeluarkan tenaga, waktu, bahkan uang (meskipunya hanya sedikit tapi karena aku sangat perhitungan, itu menjadi beban untuku). Aku membeli kebutuhan kecil untuknya, menembus teriknya matahari dan hiruk-pikuk kota yang semrawut seperti kabel-kabel yang menjuntai, meliuk-liuk, saling melilit, menyilang dan bahkan menumpuk seperti benang kusut. sesaat aku berpikir, mungkin begitu juga pikiranku akhir-akhir ini.
Kota ini sangat kacau. Macet, panas, kumuh, penuh orang-orang emosional yang membuatku bahkan enggan berbincang dengan siapapun. mungkin pikiran mereka juga sama ruwetnya seperti kabel-kabel kota ini.
Dan rumah sakit, aku benci. Rumah sakit selalu berhasil membuatku tidak nyaman. Bau antiseptik, suara alat medis,orang-orang yang sakit dan tenaga medis yang congkak membuatku merasa seperti di neraka. Rumah sakit membuatku mual, rasanya jijik menyentuh apapun di sana karena aku membayangkan virus di setiap sudut. Sangat ironi bagiku, di saat orang-orang tak berdaya dan merendahkan harga diri mereka untuk meminta bantuan, tenaga medis sering berbuat sewenang-wenang. apalagi jika pasien BPJS. itu membuatku tidak nyaman. entah perasaan sedih,kecewa atau simpati.Tapi anehnya, aku tetap datang.
Mungkin aku sedang berharap. Aku sedang berjudi kehidupan. Menggantungkan kemungkinan bahwa seseorang yang baik akan muncul dari ketidaksengajaan ini. berharap ada yang lebih baik akan menjadi bagian dari hidupku?
Atau mungkin aku hanya sedang putus asa. Merasa tidak punya tempat bercerita, tidak punya teman, tidak punya pasangan..
Namun di tengah semua keraguan itu, ada satu perasaan yang tak bisa kuhindari: iba.
Dia sendirian. Tak ada keluarga yang datang, tidak ada teman yang menemani. Tak ada yang duduk di sisinya selain aku—orang asing. Dan itu membuatku teringat, betapa beruntungnya aku dulu saat sakit. Keluargaku selalu ada. Kakakku bahkan pernah berkata kalau aku adalah pasien paling rewel karena saat sakit bayak sekali yang ku minta.
Air mataku sempat jatuh karena pada saat yang sama aku merindukan keluargaku.
Keluargaku memang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilaiku. Tapi mereka adalah tempat pulang. tempat saat aku merasa sangat lelah dengan kehidupan ini. lalu terbersit dalam pikiranku, "mungkinkah ini yang namanya panggilan hati nurani?". Ah entahlah, aku tidak peduli.
Ketika pulang dari rumah sakit, langit mulai gelap membungkus kota yang kacau ini. Tapi cahaya senja masih menyisakan semburat warna pink ke merah-merahan. Begitu indah, benar-benar menenangkan, memberi jeda pada pikiran yang riuh. Dan aku sempat bertanya dalam hati: jika semua pengorbananku hari ini dibayar dengan kedamaian seperti ini, apakah itu cukup?
Satu hal lain yang kusadari: aku sering melakukan sesuatu dengan harapan ada imbal hasil yang sepadan. Dan hal itu selalu menjadi bumerang. Aku merasa rugi jika tidak mendapat balasan yang setara, terutama dalam hal materi. Aku lupa atau mungkin bahkan tidak tahu apa makna dari ketulusan.
Yang aku tahu, aku ingin bisa tulus. Tapi ternyata itu sangat sulit. Bahkan saat memberi uang pada pengemis tua dan cacat, aku masih berharap mendapat rasa nyaman atau lega sebagai imbalannya. Jadi, mungkin tidak ada yang benar-benar tulus. Karena yang kulakukan pun masih demi rasa yang ingin kudapatkan.
Apakah ini karena aku lulusan ekonomi, terbiasa menghitung untung rugi? Atau aku memang terlalu congkak untuk menerima bahwa tak semua hal harus dibayar dengan setara? atau aku tidak tahu makna sebuah ketulusan?.
Aku tak tahu pasti jawabannya. Tapi satu hal yang ingin aku pelajari: bagaimana caranya memberi tanpa berharap kembali.
Aku tahu, itu tidak mudah. Tapi seperti langit yang tetap indah meski tak pernah menagih siapa pun untuk menatapnya, aku ingin belajar menjadi seseorang yang juga bisa memberi dengan ikhlas. Sedikit demi sedikit, dengan langkah yang pelan. tapi masalahnya aku bukan langit rasanya aneh membandingkan diri dengan benda mati. jadi sebenarnya apa makna ketulusan itu?.

Komentar
Posting Komentar