“Tetotet, Tetotet” begitulah suara abang somay membuyarkan lamuna Amy di Tengah malam karena tidak bisa tidur, memikirkan banyak hal. Disaat umur-umur 25 ini, ada banyak hal yang membuat Amy sering kesulitan tidur karena memikirkan banyak hal. Anak muda zaman sekarang mungkin mengatakan sebagai quarter Life Crisis dimana setiap hari terus merasakan kecemasan tentang masa depan. ada banyak keresahan dalam hidupnya yang terus saja membuat kepalanya berputar hingga ia kesulitan untuk memejamkan mata. Masalah-masalah hidup, konflik dengan orang tua, karir yang stuck, usia yang terus bertambah tapi belum menikah, teman-teman yang toxic, perang Israel dan Palestina yang tiadak berkesudahan,perang dagang AS dan China, bumi yang semakin panas, sampah yang semakin menggunung, polusi Jakarta. Dan banyak hal lainya yang tdak bisa ia lewatkan dalam lamunan panjangnya.
Bicara masalah polusi Jakarta, kini Amy sedang tidak sehat karena sulit membiasakan diri berperang melawan polusi. Seja kepindahaannya beberapa bulan yang lalu, Amy terserang batuk yang tiadak berkesudahan hingga 2 bulan lamanya, entah dari mana datangnya batuk itu, kian hari kian menjadi. Tentu saja akan sulit sembuh karena ia terus menerus menghirup polusi kendaraan, belum lagi semua rekan kerjanya yang merokok. Tidak ada pohon, tidak ada udara segar, batuknya terus menerus me.
Batuk bahakan belum selesai kini ia terserang penyakit lain, Sudah 3 hari amy kehilangan suaranya. Saat ia mulai kehilangan dimana ia merasakan sekujur tubuhnya pegal-pegal, matanya sangat perih dan kepala berputar-putar. Ia merasakan ada segumpal besar yemg tersedak di tenggorokanya menimbulkan nyeri yang sangat luar biasa saat makanan atau air melewatinya. Bisa di mengerti karena polusi Jakarta dari asap kendaraan bermotor dan pabrik batu bara membuat hidup di Jakarta adalah pilihan terburuk dalam hidupnya yang pernah ia ambil. Namun, Amy selalu percaya di balik keterpurukan selalu ada hikmah. Saat itu suaranya mulai timbul tenggelam saat berbicara dengan temanya. Kini bahkan ia sudah kehilangan hamper 90 suaranya. Sangat melelahkan Ketika ia bicara teman-temanya selalu “hah hoh”. Pun pakai Bahasa isyarat sangat sulit untuk di pahami bagi mereka yang tidak terbiasa menggunakanya. Dengan pengalamanya itu, kini Amy sangat mengagumi guru SLB yeng menurutnya sangat
Karena cara komunikasi apapun tidak berhasil, akhirnya iapun lebih banyak diam tidak bersuara. Iya memang selama ini amy sudah terbiasa suaranya di bungkam, entah itu dikeluarganya maupun di tempat kerjanya. Di keluarganya yang di dominasi budaya patriarki Amy hanya selalu menjadi anggota yang selalu menjawab “Iya, OK” pun di tempat kerja yang CEOnya otoritar ia hanya selau menjawab “Baik Pak, Siap Pak, Laksanakan Pak” begitulah ia dimanapun tidak berhak punya suara.
Sebelum merantau ke Jakarta ia membayangkan betaapa kerenya tinggal di Jakarta, orang-orang berlalu Lalang dengan pakaian rapi dan fashionable, menggunakan kendaraan umum naik MRT, Trans Jakarta, atau KRL. Merekapun selalu terburu-buru Ketika berjalan seolah tidak ada bisa membuang waktu walalu sedetik. Amypun berpikir ingin sekali ia menjadi bagian dari mereka menjadi manusia bebas yang punya suara. Bebas mengekpresikan diri, bebas mengekplore kreativitas diri dan lainya. Terbayang di benaknya bagaimana ia akan menjadi Kartini masa depan yang tidak akan kehilangan suaranya walau bersaing dengan para pegawai laki-laki.
Namun terkadang yang dibayangkan dan diinginkan tidak selalu sesuai kenyataan, naik trasportasi umum tidaklah sekeren kelihatanya, Amy menunggu Transjakarta kurang lebih setengah jam baru lewat, itupun jika keadaan lancer, belum lagi berdesak-desakan di dalam mobil, selalu saling mengabaikan Ketika semua bangku terisi penuh lalu lansia datang dan semua anak muda menutup mata dan membuka mulut berpura-pura tidur. Ketika petugas trans Jakarta terus mengoceh minta tolong kursi prioritas/ tolong kesadaranya semua bungkam tak punya suara. Lalu akhirnya petugaspun langsung datang dan menegur begitulah makanan Amy sehari2
Iapun memutuskan merantau ke Jakarta, karena menurut orang-orang Jakarta adalah tempat yang paling cocok untuk bersuara, tidak setuju dengan pemerintah larilah kedepan Gedung DPR dan bersuara. Merasa tidak berkeadilan larilah ke Gedung kejagung. Sering Amy melihat betapa bebasnya orang-orang bisa mengeluarkan suara. Namun dirinya masih terkukung budaya Patriarki dimana Perempuan hanya bisa diam saja, sekalipun ia bersuara maka ibunya akan mengomelinya sebagai anak yang tidak tahu adab kepada orang tua. Ketika di Perusahaan ingin bersuara iapun harus siap dengan SP1, 2 dan bahkan pemecatan. Kini dia baru tahu bahwa yang berhak bersuara hanyalah orang-orang yang mempunyai power, entah itu di jabatan atau barang kali di media sosial. Sedangkan ia hanyalah rakyat jelata yang followernya juga tidak mencapai 100 orang.
“Ngek Ngok Ngek Ngok” Rupanya suara si abang somay di Tengah malam jauh lebih nyari dari pada suarannya.

Komentar
Posting Komentar