Sejak kuliah, aku adalah orang yang ambisius, aku adalah mahasiswa yang selalu bersemangat setiap hari. Karena aku yakin kuliah akan membuatku jadi orang yang sukses. 2017 yang lalu aku lulus kuliah dan mulai mencari kerja kesana kemari.
Aku lulus dengan predikat hampir cumlaude hanya kurang 0.000000001 dan lulus dalam waktu yang singkat 3.7 bulan. Sebuah prestasi yang membanggakan bagiku yang merasa salah jurusan. Meski aku tidak tahu harus bekerja apa, aku merasa bersemangat setiap hari untuk mencari kerja. Aku tidak membuang waktuku untuk rehat atau santai sejenak setelah bergelut dengan buku-buku yang tidak aku sukai selama bertahun-tahun.
Aku berpikir dengan modal pengetahuan dan pengalaman selama kuliah akan membawaku pada perusahaan-perusahaan besar spt BUMN, Astra dan lain-lain. Nyatanya hidup tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Bekal IPK diatas 3 dan lulusan Universitas negeri tidak menjaminmu mendapatkan pekerjaan semudah membalikan tangan.
Sudah hampir 4 bulan aku merantau ke ibu kota, untuk mencari pekerjaan, beruntunglah kakak perempuanku sudah lebih dulu mengadu nasib disana. Sehingga untuk makan, sewa tempat dan bekal sehari-hari kakakku secara sukarela menawarkan diri. Kami memanng bukan dari keluarga cukup. Sejak kecil aku dan saudara-saudaraku yang lain sudah terbiasa hidup susah dan saling mendukung satu sama lain. Bahkan ketika beas siswa S1 ku tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliahku. Kakak-kakakku bahu membahu saling membantu secara bergiliran, agar aku tidak putus ditengah jalan karena kurang biaya. Aku merasa bersyukur, terlahir dari keluarga miskin membuatmu lebih dekat dengan saudara-saudara dan merasakan kehangatan keluarga. Bersama-sama merasakan pahit manis, susah dan sedih kita rangkul bersama-sama. Hal-hal yang berat dan melelahkan terasa sangat ringan jika di hadapi bersama-sama.
Sering aku mendengar kawanku dan saudaranya sering tidak akur. Bahkan ada yang sedikit merasa aneh ketika aku begitu dekat dengan kakak dan adik-adiku. Sungguh, apakah orang-orang kaya sangat cuek dan tidak peduli bhkan kepada keluarga sendiri. Aku tak tahu, hanya menerka-nerka.
Aku tinggal bersama kakak perempuanku disebuaah kontrakan kecil yang sesak walau hanya diisi kasur dan galon air. Gangnya kotor dan sesak, sebenarnya tinggal disini serasa dineraka, panas , bau bahkan sinar mataharipun sangat sulit masuk karena terhalang gedung-gedung kontrakan lantai 3. tinggal di kontrakan seperti ini tidak merasa hidup, masa depan terasa suram. Kalau saja tidak ada semangat dihati untuk merangkai masa depan. Tidak ada sedikitpun hasrat bahkan untuk bangun dari tidur. Sangat membosankan dan mneyebalkan. Namun, kontrakan-kontrakan seperti inilah yang cocok dengan kantong para perantau baru atau buruh pabrik yang gajinya hanya UMR. Kakakku sudah lama tinggal dikontrakan ini, sudah bertahun-tahun. Jika hanya satu orang yang menempati, masih bisa menggeliat bangun tidur, tapi kalau dua orang yang tinggal, ruangan ini benar-benar sempit. Kami tidak bisa bergerak bebas bahkan hanya untuk menggeliat dipagi hari.
Kakak perempuanku yang satu ini benar-benar bekerja keras dan penyabar, buktinya dia betah bertahun-tahun di kontarakan yang tiada masa depan ini. Selain itu dia membiayai kuliahnya sendiri. Tidak sepertiku, kakaku kuliah sambil bekerja. Membagi waktu untuk belajar dan bekerja. Terkadang hanya tidur 2 jam dan lebih sering sakit tifus karena kelelahan dan kekurangan gizi. Karena perjuangan tidak ada yang mudah. Di negera berkembang seperti kita, ingin sekolah saja bagi orang-orang miskin harus benar-benar berjuang. Melihat perjuangan kakaku aku merasa harus cepat lulus kuliah dan mendapat pekerjaaan. Agar bisa merubah nasib keluargaku. Maka selama itu aku berjuang mati-matian untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.
selama 4 bulan mencari kerja tapi tak kunjung dapat. Ribuan email sudah kukirim pada perusaan-perusaan. Ratusan lembar lamaran sudah ku kirim via pos ke berbagai perusahaan. Bahkan berpuluh-puluh interview sudah aku ikuti. Setiap ada Job Fair, tidak pernah ketinggalan, selalu aku ikuti dengan semangat, tapi tidak ada panggilan sama sekali. Berangkat pagi naik kendaraan umum, berpanas-panasan. Berapa ratus ribu uang yang sudah terbuang untuk membeli amplop coklat, print CV, biaya transport. Beberapa kali ku datangi yayasan pencari kerja, setelah tes dan bayar 100rb salalu di suruh menunggu panggilan yang tak kunjung berdering meminta bekerja disuatu perusahaan.
Hari ini, adalah hari yang sangat cerah, udara pagi terasa lebih sejuk meski di kota metropolitan yang selalu panas dan hitam. Aku perbaiki lipatan kerah kemeja putihku, dan kuputar sedikir rok hitamku. Memastikan kembali di cermin bahwa aku sudah benar-benar rapih dengan seragam putih dan rok hitamku. Seragam yang satu ini sangat favorit dipakai oleh para pencari kerja. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan seragam ini, karena dimanapun dan siapapun akan prihatin melihat seragam ini. Karena mereka tahu kami sedang berjuang mendapat pekerjaan.
Kususuri jalan-jalan ibu kota, aku merasa seperti aku terseseat dinegeri orang. Tidak tahu dimana, kemana dan harus apa. Yang ku ikuti hanya lah naluri seroang pengangguran yang ingin mendapat pekerjaaan. Dimanapun, kemanapun ku kejar untuk mendapat sebuah pekerjaan.
Hari demi hari mulai melelahkan, mulai membosankan. Setiap mengikuti job fair selalu hanya PHP.
Sampai ketika pulang disore hari aku mulai merasa sedih karena tidak kunjung mendapat kerja. “apakah ada yang salah denganku?” apakah nilaiku tidak cukup baik? Apakah aku benar-benar tidak menarik?” berbagai pikiran negatif selalu muncul di otaku yang mulai putus asa. Rasa panas, lapar seakan mendukung semua kesialan ini, alunan musik pengamen dan nyanyian lirik membuat hatiku semakin terutusukk. Apalagi ketika lagu yang dinyanyikan adalah lagu ayah.
“ayah...dalam hening sepi kurinduan”
Anakmu kini sudah menanggung beban
Lagu terkutuk ini semakin mengiris hatiku. Mungkin seharusnya lagu Sarjana muda karya iwan fals yang sangat cocok saat ini, Tidak sadar butiran bening berjatuhan dari pelupuk mataku. Semua situasi menyedihkan ini sangat sukses menenutup hariku yang lelah ini.
Aku pulang ke kontrakan dengan tangan yang kosong dan hati yang hampa. Sarja Ekonomi lulusan Universitas negeri ini masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan. Segera setelah mandi, kujatuhkan badanku keatas kasur.
“Oke sudah cukup dengan drama menyedihkan ini, masih ada hari esok,lusa, esoknya lagi dan lusa lagi” dalam hatiku meyakinkan diri.
Di pojok kamar kulihat kakaku masih berkutat dengan laptop dan angka-angka. Sering sekali kulihat dia bahkan membawa pekerjaannya kerumah, berjam-jam mengerjakan pekerjaan, lembur tanpa di bayar atau diapresiasi oleh atasan. Karena besoknya ketika laporan salah sedikt saja, bosnya akan marah besar seperti orang kesurupan. Dulu aku menganggap untuk apa bertahan di pekerjaan yang seperti itu, hanya melelahkan, harusnya dia mencari kerjaan lain yang lebih cocok dan nyaman. Dia selalu bilang “ mengeluhnya orang bekerja masih lebih baik dari pada mengeluhnya orang yang tidak bekerja”. belakangan aku tahu kenapa dia mengatakah hal seperti itu. Karena mencari kerja memanglah sulit. Dia lalu tersdae adiknya datang dengan rasa kecewa, kemudian dia menghampriku, Kakakku terlihat sedikir bersimpati lalu dia bertanya :
“ bagaimana hari ini? Masih belum dapat kerjakah?”
Aku hanya bergumam “hmmmm”
Sepertinya dia sedikit mengerti keadaanku, melihat mataku yang sembab dan ketidaksemangatanku dia pasti sudah menyimpulkan sendiri hasilnya.
Lalu dia berkata “ keberhasilan itu datang ketika kamu sudah dihampir putus asa, tapi tidak menyerah. Ketika orang yang putus asa dan memutuskan untuk menyerah, sebenarnya dia ada diakhir perjuangannya.
Kau tahu? Jalan setiap orang itu selalu berbeda, ada yang lurus kemudian sampe, Jadi semangatlah” hiburnya.
Samar terdengar kata-kata motivasi darinya yang sebernarnya lebih terdengar seperti omong kosong bagiku yang putus asa.Ingin terlelap dengan semua rasa sakit dan lelahnya hidup ini ku pejamkan mata melupakan semuanya.
Ketika pagi datang, dan hatiku sudah berdamai dengan takdir semalam kucoba membuat rencana lagi untuk hari ini, semangat yang sempat padam semalam kucoba nyalakan lagi dalam dadaku. Aku mulai mengecek email dan ponsel berharap ada kabar baik datang. Dan ternyata
berjuang menaklukan dunia kerja yang keras ini.
Aku hanya memberikan apa yang aku dapatkan. Aku bekerja tidak mencari kawan ataupun lawan. Ada yang suka saja syukur tak ada juga tak apa bukan suatu hal yang akan membuatku menjadi beban. Toh kita hidup bukan untuk meminta dinilai orang lain ataupun menilai orang lain. Karena bagaiamanapun orang menilai kita yang tahu kebenarannya tetap diri kita. Dan ketika orang lain berbicara apa saja tentangku. Silahkan saja. Aku tak hidup untuk mendengarkan ocehan orang
Komentar
Posting Komentar