Hari ini Ada sesuatu yang menggangu pikiranku.
Ketika aku ditanya seks sebelum nikah?
Jawabanku begini “ aku tidak peduli dan tidak mau peduli pada orang-orang yang melakukan seks sebelum nikah. Aku tidak membenarkan seks sebelum nikah. Tapi juga tidak menyalahkan orang-orang yang melakukan seks sebelum nikah. Bagiku, itu masalah pribadi masing-masing. Bagi mereka yang ingin melakukan seks sebelum nikah mereka harus sudah siap menerima semua konsekuensinya. Baik itu yg negatif atau positifnya (meskipun mungkin bagiku tidak ada positifnya), mungkin lebih banyak negatifnya, Misal dari kehamilan, penyakit kelamin atau hukum adat dalam bentuk rasa bersalah. Oleh karena itu pendidikan seks sangat penting sejak dini. Jadi dari kecil anak-anak harusnnya sudah diperkenalkan dengan pendidikan seks sehingga mereka tidak menganggap hal yang tabu terhadap seks, dan mereka ketika remaja sudah mengerti dan mampu memposisikan diri mereka.Suatu hal yang tabu tidak bisa dipungkiri membuat banyak orang penasaran. Apalagi untuk remaja yang baru tahu tentang oragan-organ tubuhnya, mereka semakin penasaran dengan tontonan yang dan scene dewasa dari internet. Sehingga, banyak remaja menghilangkan rasa penasaranya dengan menonton film dewasa. Padahal film dewas tidak bisa dijadikan edukasi, dan dari sinilah muncul tindakan-tindakan yang negatif dari remaja-remaja yang diakibatkan karena mencari tahu tanpa filter yang baik.
Oh berarti kalau begitu anda membenarkan seks bebas dong?
Tidak juga, dari awal aku sudah jelaskan. Pendidikan seks memang penting tapi selain itu, norma yang baik. Penanaman agama sejak dini juga mungkin bisa jadi sebuah benteng bagi seseorang untuk melakukan seks sebelum menikah.
Aku belum menikah dan sangat penasaran dengan seks, benar-benar ingin melakukannya, dan memang aku pernah melakukan hal yang menjurus ke arah seks. Tapi sesudahnya aku merasa sangat menyesal dan bersalah pada diri senidri, meskipun itu aku belum melakukan hubungan seks secara nyata. Tapi itu membuatku merasa tidak bermoral dan aku selalu dihatui rasa bersalah dan bagiku itu adalah hukuman yang paling berat karena saya merasa sepanjang hidup saya berada dalam ketakutan dan rasa bersalah. Dan saya merasa jijik saat ingat melakukannya. Saya merasa benar2 jijik dan ilfeel ketika laki laki itu meciumku leherku, memeggang dadaku. Meskipun kami tidak lebih jauh dari itu. Tapi ketika saya ingat lagi. Saya merasa benar2 jijik.
Saya juga merasa kepercayaan diri saya sebagai perempuan menurun dan saya krisis kepercayaan terhadap laki-laki. Jadi dalam otak saya, saya merasa tidak ada laki-laki yang benar-benar tulus mencintai saya dan mau menjaga martabat saya sebagai wanita. Jadi akhirnya saya merasa wanita itu adalah obyek seks dan saya membencinya.
Saya mengesampingkan agama ketika membahas tentang seks, karena jelas dalam agama saya seks adalah hal yang paling di tentang, tapi saya mengedepankan moral dan martabat saya sebagai perempuan ketika ingin melakukan seks sebelum menikah. Saya tidak menjudge setiap perempuan atau laki-laki yang melakukan seks sebelum menikah tidak bermoral. Hanya saja itu persaan saya saja, ketika saya akan melakukan seks, saya merasa tidak bermoral.
Seks adalah kenikmatan jangka pendek dan bersifat aditif, jadi ketika kita melakukanya sekali maka akan tumbuh rasa ingin melakukannya berkali-kali. Yeaah, itu kata teman-temanku. Karena aku belum melakukanya aku tak tahu rasanya. Dan beberapa teman mengatakan “yaelah di jaman seperti ini, itumah udah hal yang biasa. Tidak ada apa-apa kali, Toh keperwanan cuma mitos”.
Ya, masalah perawan dan tidak perawan memang hanya mitos. Kalau patokan keperawanan adalah selaput dara, itu salah. Karena menurut beberapa artikel, bahkan karya ilmial, selaput dara bisa robek karena bersepeda, olahraga, terjatuh dan lain-lain, bahkan ada beberapa wanita yang diciptakan tidak punya selaput dara. Jadi tidak bisa jadi patokan. Oh ya? Wanita yang sering melakukannnya vaginanya lebih lebar, itu juga bisa jadi patokankan? No, vagina perempuan bersifat elastis ketika ada tekanan dia akan melebar, tapi akan kembali kebentuk semula.
Jadi apa yang kamu risaukan? Agamakah??
Tidak, karena pada akhirnya agama juga tidak bisa jadi pegangan untuk tetap melakukan seks. Buktinya tetangg2 saya yang notabene adalah anak ustad dan keluarga religius yang kalau pake kerudung dimotor sampe menutupi lampu sen tetap saja hamil diluar nikah. Atau teman-temanku yang bahkan bergaul dengan laki-laki saja dia selalu menjaga jarak, toh hamil juga. Jadi bagiku agama saja tidak cukup. Jadi moral kitalah yang harus di perteguh dan pendidikan seks sejak dini, sehingga kita akan mengerti akibat yang ditimbulkan.
Bagi para wanita yang ingin melakukan seks sebelum nikah harusnya dipikir dulu. Karena bagi wanita seks adalah sakral. Ketika wanita melakukan seks untuk pertama kalinya mereka akan merasa perasaan mereka lebih mendalam dan rasa sayang akan bertambah. Sentuhan fisik bagi wanita menumbuhkan emosi yang mendalam kepada pasangannya. Beda halnya dengan laki-laki, mereka akan menganggap seks hal yang biasa saja dan mereka tidak peduli. Having seks bagi mereka adalah bersenang-senang, sudah itu saja. Oleh karena itu banyak wanita yang akhirnya merasa jadi korban karena ditinggalkan, karena diputuskan atau diselingkuhin. Pada akhirnya efeknya seks bebas pada wanirta tidak sesimple yang dipikirkan.
Untuk wanita yang sudah melakukan hubungan seksual jangan menjadi rendah diri dan merasa tidak akan ada yang mau menerima, jika pun ada yang mengatakan tidak mau karena tidak perawan, ya sudah tidak usah mau pada seseorang yang tidak mau menikah denganmu karena kamu tidak perawan, as simple as that. Nilai seorang wanita bukan hanya dari statusnya perawan atau sudah tidak perawan. dari pada bertahan dihubungan yang toxic, maka putuskanlah.
Komentar
Posting Komentar